Rabu, 24 April 2013

Kita yang Beda


Ya, benar bahwa kita memang berbeda, tetapi bukan dalam arti "beda" yang buruk. Perbedaan kita adalah wajar, tetapi penyikapan kita terhadap perbedaan ini lah yang kerap menjadi masalah.

Pandangan "rumput tetangga terlihat lebih hijau" membuat kita jauh dari rasa syukur, padahal setiap orang memiliki porsi masing-masing. Meskipun menginginkan badan yang kurus, kita tidak bijak jika kemudian memaksakan memakai baju ukuran untuk orang kurus kan? Bisa jadi pula, banyak orang lain yang menginginkan ukuran tubuh seperti milik kita. Bagaimanapun juga, keadaan orang lain yang kita pandang menarik dan menyenangkan belum tentu dirasakan sama oleh orang yang benar-benar menjalaninya. Kita melihat mereka "begitu" dan mereka melihat kita "begini". Padahal yang "begitu-begini" belum tentu benar-benar "begitu-begini". Kata orang jawa hanya fenomena "wang sinawang" saja.

Yang kita butuhkan adalah menyelaraskan diri yang kita inginkan dengan diri kita yang sebenarnya. Semakin tipis jarak antara keduanya, semakin jauh pula jarak kita dengan rasa "sengsara". Kita akan menyukuri keadaan kita, dan juga menyukuri keadaan orang lain. Tidak lagi menginginkan dan berandai-andai untuk menjalani kehidupan orang lain. Beginilah keadaan saya, saya menerima keadaan saya, dan saya bersyukur atasnya. Saya tidak seperti anda karena kita memang berbeda. 

Saya OK dan anda OK juga! Jadi, kita sama-sama OK. Kita tidak perlu minder pada orang lain dan tidak bisa pula sombong karena orang lain OK pula. Kita sama-sama berbahagia. Semakin hati kita bahagia, maka semakin tepatlah kiranya jalan yang kita tempuh.  

Ingat, tolak ukurnya adalah kebahagiaan hati :) Hidup cuma sekali, mari berbahagia :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar