Label

Tampilkan postingan dengan label perempuan dalam naskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan dalam naskah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2009

Kamu-ku

Satu lagi naskah yang berhasil dipentaskan Teater Getar Salatiga. Naskah ini berjudul Kamu-ku karya Nonti Soedjono yang juga merupakan alumni Getar. Naskah yang disutradarai Mikdat Musa "cepox" ini telah dipentaskan tanggal 15 Juni 2009 dan 23 Juni 2009. Pementasan dilakukan bersamaan dengan naskah Perempuan tanpa Orgasme.

Dalam Kamu-Ku, kentara sekali perbedaan antara "Aku" dan "Kamu". Secara kasat mata, cinta seseorang ditujukan tidak kepada kekasihnya, tetapi terlebih pada bayangan pikirannya atas kekasihnya itu. Aku menicintai kamu yang ganteng, aku mencintai kamu yang berhidung mancung, aku mencintai kamu yang pintar. Itu semua ternyata menunjukkan bahwa Aku hanya mencintai keinginan-keinginan dan harapan-harapanku sendiri. Keinginan-keinginan yang miss  ini menimbulkan masalah antara Aku dan Kamu, yaitu ketika Kamu tidak dapat memenuhi keinginan-keinginanku. Pada akhirnya, salah satu dari kita yang akan tersungkur. Begitula antara Aku-Kamu dalam naskan Kamu-Ku :)

Pemain Kamu-ku sekarang juga telah membentuk Laskar Mbulan dengan anggota: Maunah (sebagai Aku), Robin (Kamu), Eko, Hendri, Ningrum, dan Hadzil. Andara juga tergabung dalam tim musik, lebih tepatnya jadi salah satu kru tim musik di lagu-lagu pembukaan awal dan pertengahan. Rencananya naskah ini juga akan dipentaskan di STAIN Salatiga pada tanggal 3 Juli 2009 mendatang. Mohon doanya ^_^

Kamis, 16 April 2009

Lepaslah seperti busur anak panah

---

Jadilah apa yang kamu inginkan. Kamu berhak memilih jalan yang terbentang di depanmu.
Aku adalah busur dan kau adalah anak panah milik Sang Hidup
Jadilah dirimu sendiri, jadilah penentu jalanmu, hidup adalah pilihan
Kamu berhak memilih untuk sukses-gagal, untuk bahagia atau tidak bahagia, untuk berbagi atau untuk kau miliki sendiri.
Pilihanmu adalah hakmu; dan kau bertanggung jawab terhadap setiap pilihan, tindakanmu.

Aku dari tanah dan akan kembali ke tanah. Akulah yang pernah menjadi rumah kehidupanmu, melindungimu dengan cinta, dengan rasa, bila perlu akan kuberikan jantungku, napas untukmu agar kamu lebih baik
Anak-anakku.... Akulah tanah airmu, akulah darahmu; yang pernah merasai detak jantung dan alian darahmu saat di rahimku..... seperti kau pernah merasai detak jantung dan aliran darahku.

---
naskah Ibu Bumi
Candra Harjanto

Perempuan; teriakan yang tak terdengar

----
Aku seperti perempuan-perempuan lain; sebut saja aku Marsinah, perempuan yang mati dengan vagina yang dirobek, buruh jam mati dalam hitungan jam. Sebut saja aku TKW Arab Saudi, Hongkong, Malaysia, Singapura tanpa perlindungan hukum yang jelas,
Sebut saja aku, aku pelacur tanpa orgasme, bukan Cleopatra yang bisa menguasai Eropa, bukan Bunda Theresa dengan kelembutan hatinya, juga buka Aisyah istri nabi yang setia.
Tapi disini-di tempat ini, aku yang dikuasai aku, dikuasai keterpaksaan yang aku buat-buat. Seolah-olah aku tanpa beban.

Dimana Kau Tuhan pada saat-saat begini. Dimana Kau Tuhan pada saat-saat seperti ini...
Dalam hati yang kulihat hanya wajah-wajah lelaki yang meregang; Aku bukanlah firman Tuhan yang wajib kau lakukan-kau buru. Kemana tubuhku yang kemarin disiram air hujan yang diredakan gerimis...
Pada akhirnya tubuh. Tubuhku, tubuhmu, adalah misteri yang menyimpan makna seluas imajinasi, seperti agama, seperti Tuhan dimana lelaki yang lebih kuasa.

Lihatlah aku disini...

----
Bait-bait di atas merupakan sekelumit potongan naskah berjudul Perempuan tanpa Orgasme oleh Candra Harjanto.

Perempuan tanpa Orgasme
Candra Harjanto