Sabtu, 26 Oktober 2013

menerima si dia?

Kenyataan bahwa kekasih mencintai orang lain merupakan suatu pukulan telak. Rasa dikhianati, direndahkan, ditolak, dan disepelekan membuncah jadi satu di dalam dada yang makin terasa sempit. Perasaan terbuang menyeruak, mengerdilkan bayangan kita di mata kita sendiri. Kepedihan ataupun perasaan marah menggelegak, sisakan panas di dada yang membuat sesak.

Kita yang mengenal kekasih kita, kita sendiri yang mampu menentukan apakah hal itu masih dapat ditolelir ataukah tidak. Kita bisa memilih mengakhiri ataupun berkompromi dengan hal itu. Kita bisa putuskan dia, campakkan dia sebagaimana dia telah mencampakkan kita dengan dinginnya.Jika memilih itu, kitapun harus terima konsekuensinya. Sudah ya sudah. Tidak perlu mengungkit-ungkit hal yang itu. Berakhir ya berakhir. Berakhir artinya kita tidak lagi merana karena dia tidak membalas telepon kita, tidak berandai-andai dia kembali dengan kita, tidak berkubang dalam kenangan-kenangan yang memilukan kita, tidak memutar lagu yang menyayat kita, tidak meratapi fotonya dengan berlama-lama. 

Sudah ya sudah. Berakhir ya berakhir. Katakan "cukup!" pada kepedihan dan berjalanlah. Kita sudah memilih. Kita hadapi konsekuensi pilihan kita.

Atau... kita akan berkompromi dengan kejadian itu? Kita memilih menerima kesalahan kekasih kita dan memaafkannya dengan pertimbangan yang "rumit dan bermacam-macam". Jika kita percaya dan objektif bahwa kekasih akan kembali kepada kita, kesalahannya bersifat temporal (tidak merupakan kebiasaannya), dia beritikad kembali kepada kita, dan dia memang pantas untuk dipertahankan; maka kita bisa memilih memaafkannya.Tapi proses memaafkan ini (relatif) sama rumitnya dengan proses bangkit kembali ketika kita memutuskannya. Bagaimana tidak? Kita tidak bisa berharap dia akan langsung berhenti mencintai "yang lain" setelah kita berkata "jangan!" atau "awas!". Dia perlu waktu untuk berubah dan kita perlu sabar untuk menunggunya berubah sedikit demi sedikit. DAN biasanya waktunya lama-(relatif)-sangat lama. Kita tidak hanya bersabar dalam "menunggu", tetapi juga bersabar dalam "usaha membantu dia kembali kepada kita". Memperbaiki perilaku, penampilan, membuatnya lebih nyaman. Lebih lagi, kita bisa belajar mencintai orang yang dia cintai. Berkenalan dengannya, menjadi sahabatnya, atau sekadar bertukar sapa. :) Mengendalikan rasa sakit, meluruhkan benci, dan tersenyum. Beranikah kita bersabar untuk itu? :)

Clue: Jadilah "pemberani". Tentukan pilihan kita, hadapi konsekuensinya. Face it!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar