Senin, 09 Desember 2013

keempat kaki kita

Rintik hujan menyapa malam ini, menebar titik air yang kecil namun awet. Bayangku mengembara, tidak kupungkiri aku terbawa suasana dan terkenang kamu. Masa-masa telah kita lewati bersama. Selama itu kau berikan sepasang tanganmu yang terbuka menangkapku saat terjatuh. Ingat saat kau kumpulkan daging dan darahku yang terberai kala itu? Kau tangkup dengan kedua tanganmu sendiri lalu kaukembalikan padaku hingga aku mampu mewujud kembali. Adakalanya kita sama-sama terhempas dan terpelanting. Pernah terperosok sedalamnya, tenggelam hanya menyisakan muka kita yang menengadah mencari udara di kubangan lumpur. Sama-sama tak berdaya, tak bergerak, bahkan tak mampu untuk sekadar berharap: hanya menunggu waktu.

Tahun-tahun terasa bagaikan abad. Kita menjadi semakin tua, tipis, terulur, terpilin, dan transparan. Pada waktu-waktu itu kita belajar bahwa apapun yang menimpa tidak akan menghalangi kita untuk berbahagia. Kita ciptakan bahagia di antara kecamuk masa. Berlarian mengejar matahari yang mengalirkan sejuta peluh, sesekali saling membagi binar mata dan tertawa bersama. Pada malam-malam gelap kita saling memandang dan menghitungi kerut yang menggurat satu sama lain. Bahagia dengan luka-luka yang telah kita sembuhkan bersama. Ah, betapa hidup bisa seindah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar