Kamis, 05 Desember 2013

s.p.y



Mengapa seseorang kerap bersusah payah mencari tahu: mencari tahu sesuatu atau bahkan mencari tahu seseorang lengkap dengan hobi, kebiasaan, kelemahan, kelebihan, dan masa lalunya. Terutama sekali ini dilakukan untuk mencari informasi tentang orang yang kita sebeli, yang jadi rival kita, atau yang bikin eneg dipandang mata (kita sebut dia sebagai "target"). Kita jungkir balik pengen tau tentang dia, entah dengan wawancara mendalam, membuka fesbuk, memata-matai twitter, cek web, data diri, dsb. Buka mata dan pasang telinga lebar-lebar untuk hal-hal seputar "target". (hehe... kok tau banget? :D) 

Sayangnya setelah aksi pantau-memantau itu kita kebanyakan menjadi galau sendiri. Pikiran melayang entah kemana: kadang tersenyum puas, kali lain sebal, sering jengkel, dan eneg. Lihat si "target" lagi cantik langsung bilang "didukung kostum sih", "make-upnya gile bener",  "putihnya, tuh, aneh ya?", atau kalo sudah mentok bilang: "cantik sih cantik, tapi wajah gak jamin kelakuan!" Tahu dia lagi dekat dengan pacarnya, eh, kita bilang "ih, amit-amit deh", "noraknya ajebilah!", "dasar kegatelan!", "paling-paling mentok tahan sebulan". Giliran dia putus, kita sorak kegirangan (apalagi putusnya ma mantan kita): "tuh, kan!", "tau rasa!", "emang tuhan, tuh, maha adil, yah!" sambil disertai senyum puas yang manisss (triple s!).

Sebenarnya kalau kita pikir-pikir apa untungnya buat kita, ya? Yah, paling ada rasa puas, jengkel yang tersalurkan, dan terobatinya penasaran (ingat, ini cuma terobali sementara karena penasaran selalu datang lagi dengan tuntutan yang lebih besar). Kalau dicermati, yang keluar setiap aksi "mata-mata" didominasi emosi negatif yang tidak karuan ujung pangkalnya. Kita menjadi uring-uringan, dongkol, sesak, dsb. Ibaratnya: kita mengumpulkan alat dan bahan untuk menyiksa diri sendiri. Kuat berapa lama mau begitu terus?

Cara tercepat untuk menghentikannya adalah dengan (1) stop spying jika: ada niat jelek yang merendenginya. Hentikan buka fesbuknya, tutup mata dari twitnya, dan jangan membicarakan dia. Jika ini dilakukan, kita memang akan tersiksa karena rasa penasaran tidak terpuaskan. Namun, ini menghindarkan kita dari emosi negatif yang lebih membahayakan. (2) Jika kita kuat mengelola perasaan, boleh spying kok: asal seusai mendapatkan informasi yang baru tentangnya kita selalu tutup dengan senyum dan doa untuk kebaikan orang tersebut (bukan doa semata untuk memuaskan keinginan egois kita). Sulit memang, tetapi kita belajar untuk selalu membiasakannya. Ikhlas nomor dua, yang penting terbiasa dulu. Ikhlas akan datang seiring dengan kebiasaan. :) Berani coba cara nomor 2? Kalau gentar, pilih yang nomor 1 saja. ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar