Pernah kulihat kamu, dulu sekali, mungkin pada awal-awal perjumpaan kita. Engkau berjalan membentangkan sayapmu yang berjumlah empat sementara aku memegangi salah satunya. Menggenggam ujung-ujungnya sambil mengibaskan sisi panjangnya membentuk gelombang-gelombang. Aku dan tiga orang lain. Sayapmu berwarna putih, kala itu. Melambai dan meliuk seirama jalanmu yang setengah menari. Perlahan mengitari kerumunan dan manusia yang lalu lalang.
Kamu terbang dengan sayapmu yang berjumlah empat. Indah memang. Bagaimana dirimu bisa menjadi seindah itu? Aku terpesona.
Ternyata tak seperti yang kubayangkan. Kupikir dirimu menikmati tiap detiknya. Merasai kemagisanmu. Ternyata tidak. Kulihat bilur-bilur merah dan ungu di perut dan pinggangmu. Sakitkah?
Itukah yang membuatmu demikian indah: kamu menari sementara menyimpan badanmu yang sebenarnya luka-luka? Itukah yang membuatmu demikian magis? Hingga bertahun kemudian bayangmu tidak mau pergi dari ingatanku, padahal hanya kulihat punggungmu kala itu. Itukah yang membuatku terduduk dihadapanmu: kau rampungkan putaran meski sebenarnya menyakitkan? Seperti itukah pula saat kamu bersamaku: menyajikan sorot matamu yang sejuk sementara menelan pahit dengan susah payah? Itukah yang membuatku mencintaimu, dulu dan sekarang ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar