Sabtu, 22 Maret 2014

Bisakah jamu menyembuhkan sakit hati?



Suatu ketika aku menangis sedari malam hingga sore hari. Empat tahun yang lalu. Inginku surut dari tempat kuberpijak. Pergi entah kemana biar tidak ada yang tahu. Tidak ingin dihibur, tidak mau orang-orang memikirkanku, tidak mau mereka tahu.

Namun kalian datang silih berganti. Bertanya, berlagu, merayu, menghiburku dengan berbagai cara. Lagu, petuah, genggaman tangan, dukungan datang dari empat penjuru. Namun hanya diam yang kutawarkan. Aku bergeming, namun mereka juga bergeming. Mereka tidak tahu atas alasan apa aku menangis. Sakitkah? Terlukakah? Sedihkah? 

Salah seorang membelikanku sebotol k*ranti. Diletakkannya di samping kakiku. Menyangka aku sakit karena sedang datang bulan.

Tidak, bukan badanku. Hanya hatiku yang sakit. Betapa aku ingin berhenti menangis, tetapi air mataku membangkang, tak peduli perintahku. Bisakah jamu menyembuhkan hatiku? Kubuka. Kureguk isinya dalam satu tegukan panjang. Cairan kunyit asam yang dingin menyentuh kerongkongan, meluncur semakin jauh ke dasar. Bersamaan dengan itu, sesak di dadaku mengendur. Kemana sakit hati itu?  Pergi. Hilang tak berbekas. 

Tulisan ini untuk kalian. Ketika aku menarik diri dari kalian, kalian keras kepala tetap menahanku kuat-kuat. dan aku berterima kasih untuk itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar