Aku sama sekali belum lega meski pentas telah usai. Sesuatu itu terus menarikku jauh ke dalam pusaran yang bergulung-gulung entah berpusat dimana. Sulit sekali menjadi perempuan (dalam naskah Perempuan tanpa Orgasme) ini, juga sakit. Idealnya, harus kulepaskan pascapentas, tetapi entah mengapa aku enggan. Pasti akan sulit untukku dan untuk orang lain dalam mengatasi defensif, tuntutan, dan kemarahannya. Meski begitu, aku nekad akan mempertahankannya karna aku yakin seiring berlalunya waktu aku bisa mengendalikannya.
Perempuan ini adalah sosok nekad, ingin diakui, tak suka diabaikan, defensif, balik menyerang ketika diserang, konsisten, teguh pendirian, tegar, tidak begitu pandai, dan benci dilecehkan. Kalau dirangkum mungkin seperti bunga popgun. Anggun dan siaga, jika ada yang menyentuh langsung POP menembakkan peluru. Siapkah aku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar