Pertama kali aku masuk kampus di Salatiga, sebuah pohon beringin yang berdiri di pinggir jalan masuk sudah begitu menarik perhatianku. Pasalnya pohon tersebut begitu besar. Akar gantungnya yang lebat seolah memvisualisasikan otot-otot leher yang sedang menegang, lengan yang kokoh, dan umur yang tua. Pohon beringin tersebut menyumbangkan kesejukan di sekitarnya.
Di bawah rimbunan pohon tersebut, terdapat sebuah wadah kegiatan teater. Awalnya, aku mulai mewakili workshop meski belum menjadi anggota teater. Bermula dari interaksi sederhana akhirnya memberiku alasan untuk kembali belajar teater seperti yang dulu kulakukan sewaktu di SMK. Selanjutnya, aku bergabung dengan mereka. Niat awalnya ingin belajar keteateran, tapi ternyata apa yang kutemui malah berbeda.
Aku menemukan dunia tanpa kata-kata. Bahasa terbentuk melalui "laku". Menjemput ketika kemalaman, makan bersama ketika 'kelaparan', merawat ketika sakit, dan membantu. Semua saling membantu... seolah semuanya terjadi begitu saja: tanpa kata, tanpa permintaan, tanpa terima kasih. Aku melihatmu, kamu melihatku, kemudian kita sama-sama mengerti. Mengalir dan terjadi begitu saja.
Aneh, kali ini aku merasa tidak sedang hidup sendiri. Keluarga ini menjelma menjadi pohon beringin yang dibalut label angker (dan mungkin memang angker), tetapi begitu memberi tempat bagi siapa saja yang mau berlindung. Entah itu burung pipit yang indah, ulat, serangga, semut, rayap, ataupun tikus yang merusak. Semua menemukan kedamaian di sana.Terdapat begitu banyak tempat untuk orang-orang yang singgah di sana.
Di tempat ini, segala sesuatu bisa terjadi. Seperti yang dikatakan salah satu temanku: "di tempat ini, kawan, kau bisa menemukan Tuhan atau bahkan membunuhnya."
Di bawah rimbunan pohon tersebut, terdapat sebuah wadah kegiatan teater. Awalnya, aku mulai mewakili workshop meski belum menjadi anggota teater. Bermula dari interaksi sederhana akhirnya memberiku alasan untuk kembali belajar teater seperti yang dulu kulakukan sewaktu di SMK. Selanjutnya, aku bergabung dengan mereka. Niat awalnya ingin belajar keteateran, tapi ternyata apa yang kutemui malah berbeda.
Aku menemukan dunia tanpa kata-kata. Bahasa terbentuk melalui "laku". Menjemput ketika kemalaman, makan bersama ketika 'kelaparan', merawat ketika sakit, dan membantu. Semua saling membantu... seolah semuanya terjadi begitu saja: tanpa kata, tanpa permintaan, tanpa terima kasih. Aku melihatmu, kamu melihatku, kemudian kita sama-sama mengerti. Mengalir dan terjadi begitu saja.
Aneh, kali ini aku merasa tidak sedang hidup sendiri. Keluarga ini menjelma menjadi pohon beringin yang dibalut label angker (dan mungkin memang angker), tetapi begitu memberi tempat bagi siapa saja yang mau berlindung. Entah itu burung pipit yang indah, ulat, serangga, semut, rayap, ataupun tikus yang merusak. Semua menemukan kedamaian di sana.Terdapat begitu banyak tempat untuk orang-orang yang singgah di sana.
Di tempat ini, segala sesuatu bisa terjadi. Seperti yang dikatakan salah satu temanku: "di tempat ini, kawan, kau bisa menemukan Tuhan atau bahkan membunuhnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar