Jumat, 01 November 2013

child-us, world



Kita selalu dapat belajar dari anak-anak. Tawa mereka renyah. Tertawa lepas ketika digelitik, berteriak ketika bermain kejar-kejaran, memandang kita dengan tatapan yang penuh selidik dan ingin tahu, bergelayut di tangan kita, dan berlari menubruk-memeluk kaki kita ketika kita pulang. Ketika hujan, mereka girang hendak bermain air. Ketika matahari terik, mereka bersemangat bersepeda atau bermain panjat pohon. Sinar terik menjadi sahabat saat bermain layang-layang, hujan turun membawa keceriaan, tanah menyajikan tempat bermain yang tak ada habisnya. Anak-anak itu hampir tidak pernah mengeluh dengan keadaan (mengeluh soal makan, mungkin :D, eh tidak, mereka tidak mengeluh, tapi menolak atau rewel, tapi tidak mengeluh). Rewel dan marah pun diekspresikan dengan jelas, bukan dengan menggerutu.

Ketika berbuat salah, mereka datang untuk menghadapi kesalahannya baik dengan berkompromi maupun dengan cara konfrontasi. Mereka tidak melarikan diri. Mereka tetap datang kepada kita meski beberapa saat yag lalu kita marah pada mereka. Entah datang untuk membalas dengan kemarahan yang lebih besar, konfrontasi dengan menunjukkan sikap menjengkelkan, maupun menipulasi dengan mengalihkan perhatian kita. :D Mereka begitu pemberani. Mengekspresikan dirinya dengan jujur dan alami karena merasa aman dan percaya kepada kita. 

Kita pun pernah menjadi anak-anak. Kita pernah menjadi pemberani. Berulang-ulang bermain, disakiti, diledek, dimusuhi, dan kemudian bermain lagi. Kita tidak "ngambek" lama-lama ataupun kapok disakiti. Mencoba lagi, berdiri lagi, bermain lagi. Pemberani, bukan? Tetapi sepertinya keberanian itu susut perlahan seiring dengan bertambahnya usia.

Dunia menjelma musuh yang harus dikalahkan, bukan lagi tempat aman dimana kita pernah bersahabat dengannya dulu kala. Kita memandangnya dengan mata terpicing, seolah mengawasi gerak geriknya yang setiap saat akan mencelakai. Tidak lagi percaya. Kita membangun dinding-dinding kokoh yang akan melindungi kita, bersiap-siap akan adanya serangan sewaktu-waktu. Menghadapi penolakan kita, dunia pun bereaksi dengan sama kerasnya. Dia seolah menjadi semakin mengokohkan keangkuhannya dan menerjalkan ngarai-ngarainya. Pekerjaan menggunung dan membosankan, penghasilan kurang, orang-orang menjadi tidak bersahabat, badan sendiri pun membelot kemauan kita. 

Kemana perginya dunia yang menjadi sahabat kita dulu? Kemana mencarinya? :) 

Sobat, "Dia tidak pernah pergi, dia tidak pernah beranjak. Kita lah yang telah meninggalkan persahabatan itu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar