Selasa, 26 November 2013

Hi, Sob!



Beberapa waktu yang lalu aku mengalami waktu yang sulit. Seperti berdiri di tebing tinggi di kelilingi lembah terjal penuh wadas. Aku mendongak menatap langit yang hanya menyisakan hitam, hening, dan bisu. Entah ada apa disana, hanya teguh menanti apa yang akan terjadi dengan bergeming di ketinggian bebatu terjal. Semakin pengap. Kemudian aku beralih laku ke tengah keramaian biar bisa kau sapa wadagku, biar kau bisa melihat dan bercakap denganku. Namun, senyatanya kita tidak benar-benar bertemu. Aku masih serupa kepompong, diam menganyam sayapku sendiri. Tak acuh padamu.

Jarak dengan duniamu terasa makin jauh sementara engkau masih merendengiku di setiap langkah: tidak tahu apa yang terjadi. Ya, aku tidak luka, tidak pula kecewa, hanya belum memutuskan bagaimana aku akan bersikap kepadamu. 

Ah, rupanya hanya sesaat. Kemarin tak ada niatan aku menghampirimu, hanya membiarkan kau terhalang wadas dan memanggiliku dengan suaramu yang serak. Tapi sekarang setelah melihatmu sekali lagi, aku tahu harus berbuat apa. Aku siap menutup luka. Itu sepadan, biar bisa kudengar lagi percakapan kita yang renyah, biar lestari binar di matamu, Sobat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar