Pagi ini aku terbangun tiba-tiba karena disergap sesak napas mendadak. Bukan serangan pertama karena aku sudah sering mengalami sesak napas sejak SMP. Mungkin dipengaruhi faktor stress dan keturunan: ibuku punya riwayat sesak napas juga, alhamdulillah sudah sembuh bertahun-tahun yang lalu. Serangan sesak napas yang kualami waktu SMP tingkatannya ringan sehingga tidak diperlukan bantuan apa-apa. Ketika SMK, sesak napas sepertinya bertambah berat dan lebih sering muncul. Setiap mendapat serangan saat di kelas, aku biasanya ngumpet (bersembunyi) di kolong meja. Aku sering duduk di baris nomor tiga pada waktu itu, jadi kolong meja adalah tempat yang tepat bagiku untuk bersembunyi dari pandangan guru. Di kolong itu aku melakukan senam sejenak, sambil berjongkok. Tangan kurentangkan, bahu kubuka, dan tulang punggung (terutama yang berada di belakang tulang dada) aku ulur kebelakang. Biasanya setelah beberapa menit senam sesak napas hilang, kemudian aku kembali duduk.
Sewaktu melanjutkan studi S1 di Salatiga, aku ikut kelompok teater di sana. Aku mejalani latihan fisik sehingga ketahanan tubuhku meningkat, misalnya tidak gampang sakit meski bepergian malam dan tidak sakit setelah bepergian jarak jauh naik bus. Selama itu, hampir empat tahun aku tidak disergap sesak napas, yaitu hanya sekali setelah selesai mengerjakan TOEFL pada semester tujuh atau delapan waktu itu. Itu pun hanya sesaat.
Aku heran sekali pagi ini, sesak napas tiba-tiba datang lagi. Sepertinya itu merupakan efek diforsir beberapa hari terakhir ini dan ketegangan "super-tinggi" sewaktu mengerjakan beberapa hal. Payahnya, senam dan minyak kayu putih ternyata sudah tidak efektif lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana karena berbagai macam gerakan stretching tidak berdampak sama sekali. Sumbatan di dada tetap saja bergeming. Teman kost kamar sebelah kuminta bantuan untuk meletakkan tanggannya di punggungku. Tidak juga berpengaruh.
Setengah heran dan setengah tidak tahu harus bagaimana, aku berjalan ke luar dan mencoba kuhirup udara sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya. Tidak berpengaruh juga, hingga ahirnya kuletakkan ujung jari tangan iri menyentuh tulang dada: berkomunikasi pada hati dan tersenyum padanya. Bersamaan dengan ujung jari menyentuh tulang dada, sesak napas itu hilang. Benar-benar hilang begitu saja. Selama beberapa detik aku diam pada posisi itu. Ketika sentuhan pada tulang dada kulepas, sesak napas itu datang kembali. Jadi, kuletakkan tangan lagi ke depan dada. Aku kembali ke kamar dan mengetik tulisan ini. Awalnya masih dengan satu tangan karena tangan yang lain masih kusentuhkan ke dada. Namun, sampai pada paragraf ini, aku telah menggunakan kesepuluh jariku untuk mengetik. Napasku sudah kembali lega. :)
Terima kasih kepada yang telah mengajarkan teknik ini: mengajarkan tersenyum dan berkomunikasi dengan hati. Aku masih terkagum bahwa "ini" bekerja. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar