Engkau yang terbaik, pernah kau katakan padaku bahwa aku tidak merasakan bahagia karena kututup diriku dari hujaman rasa sakit. Segala antisipasi, benteng, dan pertahanan kauminta kuruntuhkan. Ya, aku melihatnya runtuh selapis demi selapis. Gugur sepetak demi sepetak. Kuhancurkan dengan tanganku sendiri, hingga tak ada tabir antara aku dan padang lapang ini.
Aku berdiri sendirian di tengah padang terbuka. Menyaksikan bilah-bilah pisau melayang kearahku. Lurus. Tak ada pepohon untuk berlindung, pun tak ada pilihan untuk mengalihkan pandangan. Menatap dengan penuh seluruh. Satu satu, pisau melesat ke arahku. Menyisakan gores demi gores. Tidak dalam, tapi luka. Tidak mati, tapi merasa perih. Tanpa pertahanan, aku demikian rapuh. Sakit datang. Kadang bersamaan.
Aku berlindung pada keyakinanmu bahwa semua itu akan membuatku lebih baik. Hanya mampu berlindung di kedalaman matamu. Tempat dimana aku dapat duduk di pojokan sambil menjilat kulit yang memanas karena luka. Adakah telah kau letakkan penawar untukku disana? Ya, kau telah melakukan sebaik-baiknya. Untuk itu, meski limbung, aku akan bersabar dan percaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar