Selasa, 05 November 2013

segelas teh atau susu yang (selalu) menjadi dingin



Tiap pagi selalu kubuat segelas susu putih atau segelas teh panas. Kadang malah keduanya. Menjelang pukul 06.00 segelas susu atau teh itu sudah mengepulkan aromanya yang khas. Tidak begitu manis, tidak begitu pahit, hanya berasa hambar. Hm.... sepertinya segar... 

Seperti biasa, teh atau susu yang masih panas mengepul itu kuminum sesesap, atau barangkali dua atau tiga sesap kemudian kuletakkan kembali di atas tatakannya. Selanjutnya, aku berbenah diri, berbenah kamar, atau sekadar nonton film, baca buku, atau berangkat kuliah. Nanti saja kuminum lagi.

Terkadang aku pergi keluar entah kemana dan pulang usai dhuhur, atau asyar, atau menjelang magrib. Melempar sepatu, tas, dan baju. Tidak ingat segelas teh atau susu yang menungguku dengan hening di atas tatakannya. Pastinya segelas teh atau susu itu telah dingin.

Malamnya, semut-semut telah datang. Aku tidak menoleh kepada gelas di atas tatakan itu.Tidak mungkin, kan, kuminum lagi? Pasti susunya tidak segar lagi dan tehnya sudah diserbu semut. Ya sudah, biarkan dulu gelas itu bergeming bersama tatakannya. Tidur sajalah.

Bersama pagi, kuambil segelas teh atau susu yang kemarin pagi mengepul panas itu, beserta tatakannya. Kutuang isinya ke dalam ember cucian perkakas. Kubilas semuanya. Kuambil gelas baru yang telah kering. kubuat segelas teh atau susu panas lagi.

Aahhh....Awalnya, kamu-lah yang selalu membuatkan segelas teh panas untukku, meski tidak pernah kuminum. Tiap pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar